Baca Kisah Korban
PERISTIWA PELANGGARAN HAM DI ACEH JAYA

Kisah Korban

PERISTIWA PELANGGARAN HAM DI ACEH JAYA

Berikut adalah kisah-kisah korban yang telah didokumentasikan oleh tim KKR.

Baca Narasi Peristiwa

NHS

Korban

"Waktu itu, setiap dentuman senjata terasa sangat mencekap. Tapi yang lebih menyakitkan adalah menahan tangis di depan anak-anak agar mereka tidak semakin takut. Berita kematiannya datang seminggu terlambat, tapi luka itu rasanya seperti baru kemarin. Dendam tidak bisa menghidupkan siapa pun, tapi rindu tidak pernah mati."

UJ

Korban

"Melihat rumah sendiri terbakar di depan mata adalah hal yang paling sulit saya lupakan. Empat orang perempuan gugur saat Magrib, di tengah suara doa yang belum sempat selesai. Saat itu saya benar-benar merasa hidup bisa hilang kapan saja."

CH

Korban

"Rumah saya dibakar tahun 2002. Waktu itu saya masih lajang, belum menikah. Yang paling saya sesali bukan rumah yang hilang, tapi keluarga saya yang trauma, terganggu mentalnya karena ulah saya sendiri. Seharusnya semua beban itu hanya saya yang tanggung, tapi justru keluarga saya yang merasakan pedihnya. Sampai sekarang rasa bersalah itu belum pernah benar-benar hilang."

KBD

Korban

"Anak saya pertama tertembak di kaki, lalu dia lompat ke sungai dan ditembak lagi di bagian kepalanya. Waktu jenazahnya dibawa pulang, luka itu masih jelas terlihat di depan mata kami. Yang paling berat bukan rasa sakit di tubuh, tapi kehilangan anak satu-satunya. Sampai hari ini, setiap kali saya lewat di jalan tempat dia tertembak, hati saya seperti ikut roboh."

RBM

Istri korban

"Kata-kata terakhir suami saya cuma satu — tolong bawa saya pulang ke rumah, saya mau jumpa anak dan istri saya. Tapi malam itu, yang pulang hanya tubuhnya yang sudah tak bernyawa. Malam-malam saya menimang anak di gubuk sawah, bukan karena ingin, tapi karena takut. Tak ada rumah, tak ada suami, cuma doa yang tersisa agar anak saya tak ikut lapar. Bukan saya tak mau memaafkan, tapi luka ini masih hidup — tiap kali melihat anak tumbuh tanpa ayah, hati saya seperti ditarik kembali ke malam ketika jenazahnya datang."

JBTH

Korban

"Waktu itu saya hanya punya baju di badan. Rumah, barang, dan kenangan kami hangus jadi abu. Tak ada yang tersisa, bahkan tempat untuk pulang pun sudah hilang. Rumah bisa dibangun lagi, tapi rasa kehilangan saat berdiri di atas puing-puingnya itu tak pernah bisa saya lupakan."

NBM

Korban

"Ketika kami pulang ke rumah keesokan harinya, yang tersisa hanya abu dan kayu hangus. Tak ada lagi tempat untuk pulang, seolah hidup kami ikut terbakar bersama rumah itu. Saya masih ingat rasa takut dan malu waktu itu. Bukan hanya tubuh saya yang diguncang ketakutan, tapi juga harga diri saya sebagai perempuan yang dipermainkan di depan mata orang kampung."

SH

Korban

"Waktu mayat anak saya datang, saya tidak berani lihat kepalanya. Saya tahu itu anak saya, tapi saya tak sanggup mengenalinya lagi. Saya kehilangan anak di depan mata, lalu kehilangan suami di tangan aparat. Setiap malam saya tidur dengan rasa takut, tapi yang lebih menakutkan adalah sepi."

AH

Korban

"Kami pikir mereka datang untuk memberi arahan, tapi yang kami terima justru tinju dan tendangan. Malam itu, kami bukan lagi warga, tapi dianggap musuh di tanah sendiri. Pukulan itu tidak hanya menghantam tubuh saya, tapi juga harga diri saya sebagai manusia. Malam itu, saya belajar bahwa sakit bisa datang tanpa darah, hanya dengan ketakutan dan rasa hina. Saya dipukul, ditahan, dan dibiarkan begitu saja. Yang lain dapat bantuan, saya tidak. Kadang saya berpikir, mungkin karena saya masih hidup, jadi dianggap tidak perlu ditolong."